17 April, 2013

Iman dan Karya


Matias Sira Leter, Fil

Paus Benedictus XVI dalam surat apostoliknya Motu Proprio Data (Pintu Kepada Iman) mencanangkan 11 Oktober 2012 sampai 24 November 2013 sebagai Tahun Iman. Pencanangan ini dilatarbelakangi oleh sebuah keprihatinan: tindakan atau perilaku seseorang lebih mempertimbangkan implikasi sosial, legal,  dan politik dari pada perwujudan iman. Kenyataan ini menunjukkan bahwa umat manusia telah terbawa dalam alam pikiran sekular. Karena itu dalam Tahun Iman ini Paus Bendictus menghimbau umat beriman pada umumnya, dan umat Katolik pada khususnya untuk menjadikan ‘iman’ sebagai inspirasi dalam hidup dan karya
.

Kenyataan yang disampaikan Paus Benedictus ini sungguh realitas kehidupan beragama zaman kita ini. Iman diletakan dalam ‘kotak’ yang dinamakan Agama. Sementara ‘Agama’ itu sendiri ‘dibonsai’ menjadi ke Gereja setiap hari Minggu, mengikuti kegiatan di lingkungan/kring/paroki lainnya. Selesai. Karena itu orang kemudian membuat dikotomi-dikotomi. Karya dipisahkan dari kehidupan beragama. Karya adalah urusan pekerjaan dan profesionalisme. Sedangkan doa/sembahyang adalah urusan agama. “Di kantor saya adalah orang profesional, di paroki, lingkungan, kring saya adalah umat beriman.”

Kenyataan ini membawa implikasi yang sangat besar dalam kehidupan umat manusia, yakni sekularisasi karya dan formalitas agama. Pekerjaan adalah tuntutan kehidupan: saya butuh penghasilan, saya butuh pengakuan sosial dan saya butuh aktualisasi diri. Pekerjaan menjadi urusan jasmani semata. Inilah yang disebut sekularisasi karya. Kendati pada saat yang sama semua orang sepakat segala kemampuan yang mendukung saya dalam karya berasal dari Tuhan.

Di sisi lain kewajiban beragama dilaksanakan sebagai sekedar ritual yang selesai di Gereja atau rumah ibadat lainnya. Hari Minggu saya memiliki kewajiban untuk ke Gereja, mengikuti perayaan Ekaristi. Malam Minggu ada kegiatan di lingkungan/Kring. Selesai. Kendati pada akhir perayaan ekaristi (dan kadang dalam ibadat lainnya) selalu ada pengutusan, “Pergilah, kita diutus.” Pertanyaannya: seberapa dalam kalimat pengutusan itu menusuk batin kita yang mengikuti perayaan ekaristi?

Paus Benedictus XVI mendorong umat beriman untuk merubuhkan tembok dikotomi ini. Iman dan karya harus bisa berjalan seiring. Bagaimana caranya? Meletakan iman sebagai dasar atau landasan bagi dalam karya. Dengan kata lain iman menjadi inspirasi karya kita.  “Saya berkarya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi saya, tetapi lebih dari itu untuk melaksanakan tugas perutusan yang Tuhan berikan kepada saya.”

“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (Yeremia 1:5) Tuhan menciptakan kita pribadi-demi pribadi. Tuhan telah menetapkan tugas yang harus kita laksanakan di dunia. Menjadi Guru, menjadi Karyawan, menjadi Politisi, Lawyer, dan pekerjaan lainnya adalah pengejahwantahan rencana Tuhan terhadap diri kita.

Dengan demikian yang diharapkan  Paus Benedictus XVI adalah kesadaran bahwa karya (pekerjaan) memiliki nilai rohani. Pekerjaan atau karya merupakan perwujudan iman. Pekerjaan adalah sebuah panggilan hidup. Jika kesadaran ini telah dibangun, maka orientasi dalam bekerja pun  akan bergeser. Orang tidak lagi melihat pekerjaan sebagai karier melainkan sebagai mutiara berharga (bdk Matius 13:44-46). Orang akan meninggalkan semua yang lain demi mutiara yang berharga itu.

Nasihat Santu Yakobus mungkin tepat untuk dijadikan penutup tulisan ini. “Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku”," (Yakobus 2:18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar