02 July, 2015

SALUT BUAT SMAK FRATERAN PODOR


(Sebuah Catatan Untuk Yang Terhormat Bapak Felix Tan)
 Menyimak 3 (tiga) tulisan opini di Pos Kupang (27/05/2015, Salut Kepada Para Guru NTT, Sebuah Catatan Untuk SMAK Anda Luri dan SMAK Frateran Podor, 01/06/2015, UN dan Kejujuran, Catatan Sederhana untuk Felix Tan, 05/06/2015, UN Bukan Penentu Kelulusan) perihal keputusan Dewan Guru SMAK Frateran Podor untuk tidak meluluskan 15 (lima belas) peserta didiknya, mengusik nurani saya sebagai seorang alumni (Tahun 1995) untuk memberikan beberapa catatan kritis.

15 January, 2015

KUMPULAN IBADAT: ULANG TAHUN, MIDODARENI, PEMBERIAN NAMA,ARWAH, DLL

Melalui pembabtisan, semua pengikut Kristus, mendapat tiga tugas perutusan Kristus, yakni: menjadi Imam, Nabi dan Raja. Karena itu semua umat Katolik berkewajiban untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan yang berhubungan dengan pengudusan, seperti memimpin ibadat sabda, menyampaikan persembahan, dll, yang menjadi tugas khas seorang imam. Demikian juga tugas-tugas kenabian dan raja, seperti membawakan khotbah, memberikan kesaksian hidup, menjadi ketua Kring, Ketua DPP, dll. Semua menjadi tugas semua umat Kristiani yang diterima pada saat pembabtisan. 

04 August, 2014

Jokowi dan Revolusi Mental (2)

PR terberat (dan tentu saja penting) Capres Jokowi jika terpilih menjadi Presiden untuk 5 (lima) tahun ke depan adalah merevolusi mental masyarakat Indonesia. Dengan nada agak pesimis, Kompas edisi Senin 20 Juni 2011, hal 1 mengatakan “Kerusakan moral bangsa ini sudah dalam tahap yang sangat mencemaskan karena terjadi hampir di semua lini, baik di birokrasi pemerintah, aparat penegak hukum, maupun masyarakat umum. Jika kondisi ini dibiarkan, negara bisa menuju ke arah kehancuran...” Senada dengan itu, editorial Media Indonesia, Kamis 29 Juni 2014 bahkan menegaskan tanpa revolusi mental Indonesia bakal menjadi ‘Negara gagal’.
Kendati kedua media besar ini tidak memberikan solusi bagaimana caranya agar Indonesia bisa terhindar dari kehancuran dan atau kegagalan sebagai negara, persoalan dan ancaman yang disampaikan adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri. Arnold Toynbee seperti yang dikutip Thomas Lickona dalam bukunya Character Matters menandaskan, “Dari dua puluh satu peradapan dunia yang dapat dicatat, sembilan belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan moral dari dalam.” Maka ajakan Capres Jokowi untuk Restorasi Indonesia dan Revolusi mental bersifat sangat mendasar dan mendesak.
Persoalannya, dari mana dan dengan chanel apa revolusi mental masyarakat dimulai?

02 August, 2014

JOKOWI DAN REVOLUSI MENTAL (1)

Dalam sambutannya di Rakornas Partai Nasdem, Selasa 27 Mei 2014 lalu, Calon Presiden Jokowi mengajak semua peserta Rakornas untuk “berani membangun nilai-nilai baru dan memulai tradisi-tradisi baru.” Kalimat sederhana ini, sangat kaya makna dan mengandaikan adanya komitmen yang kuat dan kesiapan untuk bekerja keras. Tanpa komitmen dan kerja keras maka pembangunan nilai dan tradisi baru hanyalah jargon politik yang tidak ada bedanya dengan iklan anti korupsi Partai Demokrat beberapa waktu yang lalu.
Seruan Jokowi ini berhubungan dengan Visinya Restorasi Indonesia dan Revolusi Mental. Secara kasat mata Jokowi sudah melakukannya selama menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta. Blusukan ke mana-mana, memberikan sanksi kepada petugas birokrasi yang mempersulit pengurusan administrasi kependudukan, tidak menerima gaji, dan masih banyak lagi.

05 May, 2014

PEMIMPIN: PELAYAN vs PENGUASA


(Sebuah Refleksi Atas Peristiwa Pemilihan Umum dan Paskah)

Bulan April tahun ini kita disuguhi begitu banyak peristiwa yang sangat kaya nilai yang selalu mengusik mata hati kita untuk melihat secara lebih tajam dan dalam. Setiap peristiwa membawa serta pertanyaan-pertanyaan ‘kegalauan’, entah itu keprihatinan, kekecewaan, maupun pertanyaan eksistensial seperti yang diungkapkan dengan sangat indah oleh Daud dalam Mazmur 8:6: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Dua peristiwa besar yang menjadi dasar refleksi ini adalah persitwa Pemilihan Umum dan Paskah 2014. 
Kedua peristiwa ini dihubungkan oleh satu benang merah yang sama, yakni kepemimpinan. Menarik untuk direnungkan, kedua peristiwa itu berlangsung dalam satu bulan yang sama: APRIL. Setelah melewati hingar-bingar persiapan, 9 April 2014 warga Negara Indonesia berbondong-bondong ke TPS untuk memilih orang-orang yang akan menjadi ‘wakilnya’ di Parlemen. Demikian juga umat Katolik sejagat, setelah melewati masa pantang dan puasa selama 40 hari, 18 April 2014 merayakan sekaligus menyaksikan pemberian Diri Seorang ‘Pemimpin’ di Salib yang menggugat eksistensi kepemimpinan pragmatis, “kebodohankah? Ataukah kekuatan Allah?” (Bdk 1Kor 1:18).

28 March, 2014

KISI-KISI DAN PEMBAHASAN USEK 2013-2014

Untuk siswa-siswi SMP Xaverius 1 Bandarlampung, yang mau memiliki dan mempelajari Kisi-kisi soal dan pembahasan Ujian Sekolah tahun pelajaran 2013/2014, silahkan mendowload pada link di bawah ini:

Kisi-Kisi dan Pembahasan Ujian Sekolah 2013/2014