18 April, 2013

GURU KRISTIANI: PEWARTA KABAR GEMBIRA (Lukas 1:26-38)



Oleh: Matias Sira Leter, S. Fil

                

 Peristiwa yang diceritakan Lukas 1:26-38 biasa disebut Anunsiasi Nasareth atau peristiwa Maria Menerima Kabar Gembira dari Malaikat Gabriel. Pertama kali membaca teks ini yang muncul dalam pikiran dan hati saya adalah: “Teks ini guru buanget.” Teks ini mengatakan dengan amat gamblang bagaimana menjadi “Guru Kristiani.”
                Jika kita harus melakukan pemetaan makna teks ini, maka teks ini dapat kita bagi menjadi dua (2) bagian, yakni: Kabar Gembira dan Fiat Maria.

1.       Kabar Gembira
a.       Peristiwa Injil hari ini sering disebut: anunsiasi nasareth atau Maria menerima kabar Gembira dari Malaikat Gabriel. Pedoman penyelenggaraan Lembaga Pendidikan Katolik,  menegaskan bahwa Sekolah Katolik adalah sarana pewartaan kabar gembira. Jika sekolah merupakan sarana maka para Guru adalah PEWARTA KABAR GEMBIRANYA.
b.      Malaikat Gabriel datang ke Nasareth bertemu Maria lalu mengatakan pesan dari Allah kepadanya.  Ini merupakan makna terdalam dari Guru. Bagaimana seorang Guru Kristiani memandang ‘apa’ yang dilakukan dan dihidupinya. Apakah sebagai sebuah profesi? Apakah sebuah karir? Atau sebuah panggilan? Jawaban atas tiga pertanyaan retoris ini sangat tergantung pada refleksi dan permenungan pribadi setiap Guru Kristiani. Sudah pasti bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini sangat berpengaruh pada kenerja setiap guru. Jawaban ini merupakan mindset dan lebih dari itu merupakan spirit atau jiwa yang melandasi karya pendidikan seorang guru.
c.       Teks ini memperlihatkan kepada kita Karakter dari pesan yang disampaikan malaikat Gabriel kepada Bunda Maria itu adalah membangun, memberikan harapan akan keselamatan. Guru Kristiani sebagai pewarta Kabar Gembira sedapat mungkin menjadi pendidik yang membawa pesan konstruktif atau memiliki energi positif. Pesan konstruktif ini menurut Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi melalui dua (2) cara yakni kata-kata dan kesaksian hidup. Pesan konstruktif dari Guru Kristiani bisa dirangkum dalam hal: pembangunan kecerdasan (intelektual, emosional dan sosial, spiritualitas, psikomotorik dan ketahanan) dan pembangunan karakter. Di sini Guru Kristiani memainkan peran sebagai agen perubahan. Namun untuk mencapai itu setiap Guru Kristiani sebisa mungkin memiliki Visi-Misi sendiri dalam mendidik peserta didik. Guru harus memiliki mimpi, memiliki idealisme dalam mengajar. Mengajar tidak menjadi tuntutan profesi, mengajar tidak menjadi rutinitas yang dijalankan selama bertahun-tahun, mengajar tidak sekedar untuk mengejar karir, namun mengajar dilihat sebagai panggilan jiwa, dorongan ilahi yang timbul karena kasih. Karena itu sudah sepantasnya kita tempatkan KASIH sebagai AWAL DARI PENDIDIKAN.
d.      Pada awalnya Maria merasa takut ketika menerima kabar itu. Hal ini sangaatlah manusiawi. Orang yang menerima pesan dari kita, bisa saja kuatir, takut, tidak  percaya diri dan sikap pesimistis lainnya. Peserta didik yang ada dalam ruang kelas bukanlah kertas putih atau tabula rasa yang kosong. Peserta didik adalah bagian dari keluarga maupun masyarakat. Sudah pasti anak didik ketika masuk ke dalam kelas sudah membawa serta persoalan-persoalan keluarga maupun masyarakat yang mereka alami. Karena itu penerimaan peserta didik terhadap pesan yang disampaikan Guru pun bervariasi sesuai dengan situasi batin dan situasi hidup mereka. Bisa terjadi banyak di antara mereka yang terusik, tersinggung, terganggu, mau memberontak, memprotes nilai yang disampaikan, terasing, tidak berharga, tidak diperhatikan, tidak diterima, tidak dikasihi, dll.
Persoalan-persoalan ini adalah persoalan dasariahmanusia yang berdampak pada tingkah laku anak didik, seperti: tidak mengerjakan PR, bolos, bandel, mencuri, dll. Dalam filsafat, tingkah laku seperti ini disebut fenomena atau gejala yang muncul. Di bawah fenomena ini adalah substasi yang mendasari tingkah laku mereka. Guru Kristiani yang baik, tidak menangani atau menyelesaikan fenomena, melainkan mengurai substasi yang mendasari fenomena ini. Dalam bahasa masyarakat banyak, tingkah laku itu disebut puncak gunung es. Puncaknya itu sangatlah kecil. Namun bagian terbesar dari gunung es itu ada dalam laut.
e.      Malaikat Gabriel memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada Maria: “Jangan takut Maria karena Engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” Tugas Guru Kristiani adalah memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada peserta didik. Ada lima (5) kebutuhan dasar manusia, yakni: aman, bernilai, dihargai, dipahami dan dicintai. Sebisa mungkin Guru Krisitiani mengakomodir kelima kebutuhan dasar ini dalam proses pembelajaran. Banyak anak yang tidak mendapatkan ini baik dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat. Dengan demikian diharapkan ruang kelas menjadi ruang yang menyenangkan bagi peserta didik karena pendidiknya adalah orang yang memahami kebutuhan mereka.
Selain itu, dalam proses pembelajaran adalah baik juga  metode pembelajaran penyelesaian masalah  atau dalam bahasanya Paulo Freire: solving problem Education.  Guru sebisa mungkin menjadi solusi bagi peserta didik dalam menghadapi persoalan hidup, dan mendidik anak untuk selalu menjadi bagian dari solusi dan bukan bagian dari masalah.
f.        Satu hal aktual lain dalam kehidupan Guru adalah persoalan lagi yang dikeluhkan Maria kepada Malaikat Gabriel: “Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, karena aku belum bersuami.” Maria menyadari betul dengan situasi lingkungan di sekitarnya. Maria kuatir dengan penilaian orang-orang terhadap dirinya. Gosip, isu, fitnah dan yang sejenisnya. Kecenderungan untuk berpikir negatif. Negative thinking. Ketika kepala sekolah sering berbicara dengan seorang guru, ketika kepala sekolah memberikan. Ketika kepala sekolah sering berbicara dengan seorang guru, ketika kepala sekolah memberikan memberikan banyak tugas kepada seorang guru, ketika  kepala sekolah sering meminta pendapat orang tertentu, dll bisa menjadi pergunjingan seru di ruang guru. Orang  menjadi begitu mudah untuk menilai negativ terhadap orang tertentu atau kepala sekolah atau siapapun tanpa lebih dahulu mengerti atau memahami apa yang sungguh-sungguh terjadi.
Untuk memahami bagian ini secara lebih jelas, mari kita sama-sama menyimak cerita ini: ada seorang kakek bersama dengan cucunya berjalan-jalan keliling kampung bersama keledai mereka. Karena sang kakek begitu mencintai cucunya, sang kakek meminta agar sang cucu menunggangi keledai itu dan kaketnya yang akan  menuntun keledainya. Kendati ditolak oleh sang cucu, karena terus didesak oleh kakek akhirnya sang cucu naik juga ke atas punggung keledai itu. Kakek yang penyayang itu menuntun keledainya. Perjalanan mereka kemudian melewati sekolompok orang. “Cucu gak tau diri, masa kakeknya yang sudah tua disuruh jalan, sementara dia enak-enakan naik keledai,” cela orang-orang yang ada di situ. Kakek dan cucunya itu saling pandang. “Biar kakek aja yang tunggang keledainya, saya yang nuntun, ya kek,” pinta sang cucu.  Untuk menghindari celaan yang lebih kasar sang kekekpun mau untuk tunggang keledai, lalu dituntun cucunya. Ketika melewati kerumunan orang, ada lagi komentar dari orang-orang yang ada di sana: “Kakek macam apa itu, cucunya di suruh nuntun keledai sementara dia enak-enakan duduk di atasnya.” Kakek dan cucunya itu kembali berpandangan. Keduanya kemudian memutuskan untuk menuntun keledai itu bersama, tidak ada yang menunggang. Orang-orang yang melihat itu mengatakan: “kakek dan cucu edan, ada keledai kok dituntun, tidak ditunggang.”
Negative thinking cenderung mengadili tanpa mau tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Guru Kristiani diharapkan membangun pola pikir positive, saling mendukung, kerja sama, bahu membahu, berjuang bersama untuk mencapai cita-cita pendidikan yang diharapkan bersama.

2.       Fiat Maria: Ini adalah salah satu titik paling menentukan dalam sejarah keselamatan. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria menerima semua yang dikehendaki Tuhan pada dirinya dan kesediaan untuk melaksanakan itu. Maria dalam teks ini tidak banyak berbicara. Menerima bukanlah tipe perempuan ‘ngenkelan’ yang suka membantah. Setelah menerima penjelasan Maria menerima, dan berkomitmen untuk berbakti. Hal ini bukan berarti Maria adalah tipe orang yang menerima begitu saja. Maria adalah tipe wanita perenung. Dia merenungkan semua yang dikatakan itu dalam hatinya, kendati kadang ia sendiri tidak memahaminya. Permenungan Maria inilah yang menjadi kekuatan utama Maria dalam menjalankan tugas perutusannya. Karena banyak Mariolog mengatakan Maria bahkan sudah lebih dahulu mengandung dan melahirkan kabar gembira sebelum Yesus.
Di sinilah letak kekuatan Guru Kristiani. Pekerjaan yang dijalankan, proses pembelajaran dan semua hal yang dilakukan di sekolah,  akan mendapatkan dasarnya yang kuat ketika terus direfleksikan, direnungkan. Permenungan ini memberikan makna dan dasar karya pelayanan pendidikan Kristiani. Pada titik inilah seorang guru Kristiani dapat menemukan ‘pekerjaan’ yang ia jalankan sehari-hari ini dilihatnya sebagai panggilan hidup atau sebagai apa? Diharapkan permenungan guru-guru Kristiani sampai pada titik bahawa pekerjaan sebagai guru adalah sebuah panggilan hidup yang harus ia jalani. Jika ini merupakan panggilan hidup maka Guru Kristiani pun menyadari bahwa: “untuk karya inilah Tuhan menciptakan saya.”  Karena itu saya harus memiliki KOMITMEN dalam melaksanakan tugas perutusan saya ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar