16 September, 2021
02 Juli, 2015
SALUT BUAT SMAK FRATERAN PODOR
(Sebuah
Catatan Untuk Yang Terhormat Bapak Felix Tan)
Menyimak 3
(tiga) tulisan opini di Pos Kupang (27/05/2015,
Salut Kepada Para Guru NTT, Sebuah Catatan Untuk SMAK Anda Luri dan SMAK
Frateran Podor, 01/06/2015, UN dan Kejujuran, Catatan Sederhana untuk Felix
Tan, 05/06/2015, UN Bukan Penentu Kelulusan) perihal keputusan Dewan Guru
SMAK Frateran Podor untuk tidak meluluskan 15 (lima belas) peserta didiknya,
mengusik nurani saya sebagai seorang alumni (Tahun 1995) untuk memberikan
beberapa catatan kritis.
15 Januari, 2015
KUMPULAN IBADAT: ULANG TAHUN, MIDODARENI, PEMBERIAN NAMA,ARWAH, DLL
Melalui pembabtisan, semua pengikut Kristus, mendapat tiga tugas perutusan Kristus, yakni: menjadi Imam, Nabi dan Raja. Karena itu semua umat Katolik berkewajiban untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan yang berhubungan dengan pengudusan, seperti memimpin ibadat sabda, menyampaikan persembahan, dll, yang menjadi tugas khas seorang imam. Demikian juga tugas-tugas kenabian dan raja, seperti membawakan khotbah, memberikan kesaksian hidup, menjadi ketua Kring, Ketua DPP, dll. Semua menjadi tugas semua umat Kristiani yang diterima pada saat pembabtisan.
04 Agustus, 2014
Jokowi dan Revolusi Mental (2)
PR terberat
(dan tentu saja penting) Capres Jokowi jika terpilih menjadi Presiden untuk 5
(lima) tahun ke depan adalah merevolusi mental masyarakat Indonesia. Dengan
nada agak pesimis, Kompas edisi Senin 20 Juni 2011, hal 1 mengatakan “Kerusakan
moral bangsa ini sudah dalam tahap yang sangat mencemaskan karena terjadi
hampir di semua lini, baik di birokrasi pemerintah, aparat penegak hukum,
maupun masyarakat umum. Jika kondisi ini dibiarkan, negara bisa menuju ke arah
kehancuran...” Senada dengan itu, editorial Media Indonesia, Kamis 29 Juni 2014
bahkan menegaskan tanpa revolusi mental Indonesia bakal menjadi ‘Negara gagal’.
Kendati
kedua media besar ini tidak memberikan solusi bagaimana caranya agar Indonesia bisa
terhindar dari kehancuran dan atau kegagalan sebagai negara, persoalan dan ancaman
yang disampaikan adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri. Arnold Toynbee
seperti yang dikutip Thomas Lickona dalam bukunya Character Matters
menandaskan, “Dari dua puluh satu peradapan dunia yang dapat dicatat, sembilan
belas hancur bukan karena penaklukan dari luar, melainkan karena pembusukan
moral dari dalam.” Maka ajakan Capres Jokowi untuk Restorasi Indonesia dan
Revolusi mental bersifat sangat mendasar dan mendesak.
Persoalannya,
dari mana dan dengan chanel apa revolusi mental masyarakat dimulai?
02 Agustus, 2014
JOKOWI DAN REVOLUSI MENTAL (1)
Dalam
sambutannya di Rakornas Partai Nasdem, Selasa 27 Mei 2014 lalu, Calon Presiden
Jokowi mengajak semua peserta Rakornas untuk “berani membangun nilai-nilai baru
dan memulai tradisi-tradisi baru.” Kalimat sederhana ini, sangat kaya makna dan
mengandaikan adanya komitmen yang kuat dan kesiapan untuk bekerja keras. Tanpa
komitmen dan kerja keras maka pembangunan nilai dan tradisi baru hanyalah
jargon politik yang tidak ada bedanya dengan iklan anti korupsi Partai Demokrat
beberapa waktu yang lalu.
Seruan
Jokowi ini berhubungan dengan Visinya Restorasi Indonesia dan Revolusi Mental.
Secara kasat mata Jokowi sudah melakukannya selama menjadi Walikota Solo dan
Gubernur DKI Jakarta. Blusukan ke mana-mana, memberikan sanksi kepada petugas
birokrasi yang mempersulit pengurusan administrasi kependudukan, tidak menerima
gaji, dan masih banyak lagi.
05 Mei, 2014
PEMIMPIN: PELAYAN vs PENGUASA
(Sebuah Refleksi Atas Peristiwa Pemilihan
Umum dan Paskah)
Bulan April tahun ini kita disuguhi begitu banyak
peristiwa yang sangat kaya nilai yang selalu mengusik mata hati kita untuk
melihat secara lebih tajam dan dalam. Setiap peristiwa membawa serta
pertanyaan-pertanyaan ‘kegalauan’,
entah itu keprihatinan, kekecewaan, maupun pertanyaan eksistensial seperti yang
diungkapkan dengan sangat indah oleh Daud dalam Mazmur 8:6: “Apakah manusia, sehingga
Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Dua peristiwa besar yang menjadi dasar refleksi ini adalah persitwa
Pemilihan Umum dan Paskah 2014.
Kedua peristiwa ini dihubungkan oleh satu benang merah yang sama, yakni kepemimpinan. Menarik untuk direnungkan, kedua peristiwa itu berlangsung dalam satu bulan yang sama: APRIL. Setelah melewati hingar-bingar persiapan, 9 April 2014 warga Negara Indonesia berbondong-bondong ke TPS untuk memilih orang-orang yang akan menjadi ‘wakilnya’ di Parlemen. Demikian juga umat Katolik sejagat, setelah melewati masa pantang dan puasa selama 40 hari, 18 April 2014 merayakan sekaligus menyaksikan pemberian Diri Seorang ‘Pemimpin’ di Salib yang menggugat eksistensi kepemimpinan pragmatis, “kebodohankah? Ataukah kekuatan Allah?” (Bdk 1Kor 1:18).
Kedua peristiwa ini dihubungkan oleh satu benang merah yang sama, yakni kepemimpinan. Menarik untuk direnungkan, kedua peristiwa itu berlangsung dalam satu bulan yang sama: APRIL. Setelah melewati hingar-bingar persiapan, 9 April 2014 warga Negara Indonesia berbondong-bondong ke TPS untuk memilih orang-orang yang akan menjadi ‘wakilnya’ di Parlemen. Demikian juga umat Katolik sejagat, setelah melewati masa pantang dan puasa selama 40 hari, 18 April 2014 merayakan sekaligus menyaksikan pemberian Diri Seorang ‘Pemimpin’ di Salib yang menggugat eksistensi kepemimpinan pragmatis, “kebodohankah? Ataukah kekuatan Allah?” (Bdk 1Kor 1:18).
28 Maret, 2014
KISI-KISI DAN PEMBAHASAN USEK 2013-2014
Untuk siswa-siswi SMP Xaverius 1 Bandarlampung, yang mau memiliki dan
mempelajari Kisi-kisi soal dan pembahasan Ujian Sekolah tahun
pelajaran 2013/2014, silahkan mendowload pada link di bawah ini:
Kisi-Kisi dan Pembahasan Ujian Sekolah 2013/2014
Kisi-Kisi dan Pembahasan Ujian Sekolah 2013/2014
Langganan:
Postingan (Atom)